Sajen Bahala Pembawa Petaka, Amanat Pementasan Teater SUA - Araaita.net

Breaking News

Monday, 13 September 2021

Sajen Bahala Pembawa Petaka, Amanat Pementasan Teater SUA

Penulis : Andhani Kholisotul Muklisoh

Editor : Rafika


Adegan ketika Pak Zul melakukan ritual pada pementasan drama teater Halusinasib Teater SUA di Gor Munggubangkit(11/09) Doc. Andhani/Arta

Sinar lampu menyoroti tengah panggung, pertanda acara akan dimulai. Suasana dalam ruangan terlihat gelap dengan sorot lampu hanya fokus ke tengah panggung sebagai penanda malam telah tiba. Seorang laki-laki berpakaian hitam putih sedang berada di halaman rumah selepas mencari pekerjaan. Tak lama ia terlihat sedang mencari-cari botol miras dan ganja yang ia sembunyikan, setelahnya ia meminum miras itu. Merasa sendirian, ia menelpon seseorang untuk menemaninya minum.


Adegan beralih menjadi pagi hari, dengan sorot lampu yang menjadi terang. Seorang wanita hamil, Bu Zul namanya, membangunkan seorang laki-laki yang minum semalam dan tertidur di depan rumah. Laki-laki itupun terbangun, dan meminta istrinya untuk membuatkan kopi. Namun, istrinya menjawab ia tidak bisa membuatkan kopi karena selama dua bulan tidak menerima uang bulanan dari suaminya itu. Suaminya menyuruh Bu Zul untuk menghutang ke warung. Bu Zul pun menyahuti,


"Pak pak, wes ganduwe penghasilan, senengane mabuk –mabukan, mbok yo sadar diri lek ga ndue duit (Pak pak, sudah tidak punya penghasilan, sukanya minum-minum. Harusnya sadar diri kalau tidak punya uang)"


“Sayuuuurrrr!”


Tak lama terdengar suara penjual sayur yang menggelegar diiringi suara alunan musik, membuat penonton terkesiap oleh suaranya. 


Datanglah dua ibu-ibu dengan adegan slow Motion yang hendak membeli sayur menyambut gelak tawa penonton. Ditambah Bu Yem yang memberikan imbuhan jurus sebelum bergerak menuju Penjual Sayur membuat seisi GOR dipenuhi tawa.


Ibu-Ibu dan Penjual Sayur tak habis-habisnya berbicara ngalor ngidul. Di tengah percakapannya, Bu Zul terlihat murung. Bu Yem menanyainya, Bu Zul pun menjelaskan bahwa di rumahnya sudah tidak ada persediaan kopi, belum lagi kandungan Bu Zul yang sudah delapan bulan, sehingga harus memikirkan biaya kelahiran anaknya.


Mendengar cerita sedih Bu Zul, Mirna salah seorang ibu-ibu yang belanja sayur di Bu Yem menawarkan Bu Zul kopi di rumahnya. Mirna pun memapah Bu Zul menuju rumahnya setelah selesai membeli sayur. 


Adegan berganti latar waktu sore hari. Berlatar tempat depan rumah Bu Zul, terlihat Pak Zul yang sedang berpkir memikirkan pekerjaan. Hingga akhirnya ia teringat mbah Polang yang pernah mengatakan bahwa ada cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Ia pun menghubunginya dan menyepakati untuk datang ke rumah mbah Polang.


Di rumah mbah Polang, Pak Zul disuruh mengikuti ritual untuk menjadi kaya. Lantunan gamelan menyertai Pak Zul saat melakukan ritualnya sesuai arahan mbah Polang. Ia membaca mantra dan menyetujui syarat dari Nyai Ayu bahwa setiap malam Jumat kliwon ia akan membawakan tumbal.


Tak lama, setelah ritual tersebut, datanglah seorang penari dan meninggalkan tas berisi uang.


Pada suatu malam jumat kliwon, dimana harusnya Pak Zul memberikan tumbal kepada Nyai, namun ia tidak memberikannya sehingga membuat marah Nyai. Tiba-tiba cahaya ruangan menjadi gelap, suara angin terdengar riuh. Nyai pun terus menerus menagih tumbalnya.


Pak Zul dengan berani menantang Nyai Ayu.


“Moh, Aku moh ngekeki tumbal. Metuo Kon, Aku wani karo Kon (Tidak, saya tidak mau memberi tumbal, keluarlah kamu, aku berani denganmu)"


Di tengah adegan itu, tiba-tiba Bu Zul datang. Tanpa kesadaran, Pak Zul menusuk pisau ke arah Bu Zul yang dikiranya dia adalah Nyai Ayu.


Suara gamelan kembali terdengar, Nyai Ayu berkata,


"Rasakno pembalasanku, akibate Awakmu gak ngekeki tumbal (rasakan pembalasanku, akibat kamu tidak mau memberi tumbal)"


Suara gamelan semakin kencang menyertai penyesalan Pak Zul.


Setelah kejadian menimpanya, Pak Zul tertawa dan menangis sendirian sembari memanggil-manggil Bu Zul.


"Duekku akeh haha, duekku akeh hahah. Iki kabeh goro-goro koen nyai, aku dewean (uangku banyak haha, uangku banyak haha, ini semua karena kamu Nyai, aku sendirian)" sembari mengangkat pisau yang ia tusukkan ke istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara bayi sedang menangis. Keluarlah Bu Zul dengan gaun putih dan menggendong bayinya memutari Pak Zul.


"Tego pean pak, tego pean. Sepiro duet seng pean terimo pak, sampe pean tego mateni anak lan bojone samean dewe (tega kamu pak, tega kamu, berapa banyak uang yang kamu terima pak, sampai kamu tega membunuh anak dan istrimu sendiri)"


"Sepurane buk, Aku nyesel (maaf buk, Aku menyesal)" sesal Pak Zul dengan menusuk dirinya sendiri.

No comments:

Post a Comment