UINSA Dukung Usut Kasus Pelecehan Seksual, Berikut Prosedurnya - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 2 September 2021

UINSA Dukung Usut Kasus Pelecehan Seksual, Berikut Prosedurnya

Reporter: Rafika
Editor : Yoga

Sumber: knowledgecity.com
Sumber: knowledgecity.com


Araaita.net – Pelecehan seksual akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat termasuk di kalangan mahasiswa dan civitas akademika UINSA. Oleh karena itu, perlu diketahui kebijakan mengenai pelecehan seksual yang tercantum dalam Kode Etik Mahasiswa (KEM) berikut dengan sanksinya.


Dalam KEM Bab VI Jenis Pelanggaran/Larangan Pasal 10 (2) huruf h tertulis “Mahasiswa UIN Sunan Ampel dilarang berjudi, minum-minuman memabukkan, melakukan tindakan pergaulan bebas, perzinahan, pemerkosaan, pencabulan, berkhalwat, dan aborsi illegal”. Pada larangan tersebut tertulis jelas bahwa mahasiswa UINSA dilarang untuk melakukan pelecehan seksual dalam konteks ayat tersebut yaitu perzinahan, pemerkosaan, pencabulan, dan berkhalwat. 


Mengenai sanksi bagi mahasiswa yang melanggar KEM tersebut, dijelaskan pada Bab VII Jenis Pelanggaran dan Bentuk Sanksi Pasal 14:


• Ayat (3), perzinahan dimaksud pada pasal ini, hubungan intim seksualitas diluar ikatan perkawinan baik bagi yang berstatus kawin atau belum kawin, bila tindakan tersebut terbukti dikenakan sanksi sesuai pasal 6 huruf e dan a. Pasal 6 huruf e “Dinyatakan gugur atau tidak lulus”. Pasal 6 huruf a “Mendapat teguran lisan atau tertulis”.


• Ayat (4), pemerkosaan, dikenakan sanksi sesuai pasal 6 huruf e dan f. Pelaku dilaporkan kepada pihak berwajib untuk diproses secara hukum. Pasal 6 huruf f “Dikeluarkan dan atau dicabut gelar dan ijazahnya”.


• Ayat (5), perbuatan cabul dan berkhalwat, dikenakan sanksi sesuai pasal 6 huruf a. 


Selain sanksi di atas, pihak kampus memberikan wadah bagi mahasiswa untuk mengusut tuntas dan menindaklanjuti lebih jauh kasus pelecehan seksual dengan menyerahkan kepada Mahkamah Etik. Nantinya, Mahkamah Etik yang akan memberikan sanksi sesuai dengan kasusnya. 


“Sanksi tergantung tindak kejahatannya, ada yang ringan dan berat. Jika ada kerusakan (ksususnya psikis atau mental korban) perlu dikaji secara lebih jauh, tergantung pada anggota Mahkamah Etik” ujar Rektor UINSA saat ditemui langsung di ruangannya (2/9).


Rektor UINSA saat ditemui di Gedung Amphitheater UINSA (2/9)

Pada kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus, khususnya bagi mahasiswa langkah pertama yaitu melaporkan langsung kepada pihak berwenang, minimal di fakultas. Untuk kasus pelecehan seksual yang bisa ditangani pihak kampus bukan hanya yang terjadi di kampus, namun dimana saja bagi mahasiswa, dosen, civitas akademika yang membawa nama baik UINSA. 


“Jika ada pihak-pihak tertentu yang melakukan pengaduan silahkan adukan, kita pasti akan tindak” jelas Masdar Hilmy. 


Adapun mekanisme pelaporan untuk kasus pelecehan seksual (bukan hanya kasus pelecehan seksual, namun kasus lain yang melanggar kode etik mahasiswa) sebagai berikut.


1. Membuat surat yang tertuju kepada Rektor UINSA dengan menunjukkan identitas diri,


2. Setelah surat diterima, akan ada panggilan kepada pelapor untuk mengkonfirmasi dan menceritakan kronologis kejadian,


3. Pihak kampus akan menindaklanjuti kasus lebih dalam, dengan membawa kepada Mahkamah Etik,


4. Mahkamah etik akan memberikan sanksi tegas sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan berdasarkan Kode Etik Mahasiswa atau beberapa pertimbangan lainnya.

No comments:

Post a Comment