Kisah Jatuh Bangun Nur Salim, Perakit Barang dari Besi - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 18 November 2021

Kisah Jatuh Bangun Nur Salim, Perakit Barang dari Besi

Penulis : Sherina & Maulita
Editor : Rafika


Nur Salim bersama keluarga di Tanah Merah, Kenjeran (15/11)

Air langit dengan berani jatuh di sepanjang jalan Tanah Merah, Kenjeran, Surabaya. Pun udara dingin Surabaya yang semakin menusuk kulit. Tak akan mampu menciutkan semangat Salim dan Suliati untuk terus bangkit dan mengikis jumlah pengangguran di Surabaya.

Nur Salim dan Suliati adalah pasangan suami istri yang asal Jombang yang melakukan urbanisasi ke Surabaya. Keduanya melakukan perjalanan jauh dari Kota Santri menuju Kota Pahlawan untuk berbisnis dan menetap. Tahun 1995 merupakan tahun dimana Nur Salim dan Suliati memulai bisnis mereka. Usaha yang mereka jalani adalah spare part dump truck. Keduanya hanya memiliki gubuk kecil sebagai sumber penghasilan. 

Pada tahun 1998 terjadi krisis moneter besar-besaran di Indonesia. Peristiwa tersebut telah mencekik seluruh kegiatan ekonomi di Indonesia, tidak terkecuali Nur Salim dan Suliati. Keduanya telah mengalami kerugian besar pada tahun 1998.

Meskipun begitu, Salim dan Suliati tidak pantang menyerah. Mereka memiliki beberapa karyawan yang  menjadi punggung keluarganya. Apabila Salim menyerah maka mereka akan menjadi orang yang menyakiti atau bahkan membunuh beberapa jiwa tak bersalah dengan sengaja. Apalagi sebagian besar karyawannya adalah teman-teman Sang Pemilik Usaha. 

“Setelah krisis moneter tahun 1998 saya harus bangkit kembali demi teman-teman saya yang juga karyawan di toko saya,”ujar pria berpeci hitam pada (15/11).

Keduanya memulai usaha yang serupa tapi tak sama. Mereka masih menjalani usaha di bidang spare part. Namun mereka mencoba mengembangkan usahanya, yaitu menyediakan spare part untuk berbagai kendaraan. 

Sebagai seorang pengusaha, Salim mempertimbangkan banyak hal. Hal-hal yang dipertimbangkan Salim meliputi harga barang, harga jual, dan gaji pegawai. Salim mengatakan bahwa untuk menghindari kerugian, maka ia memilih berhenti dan memulai usaha baru. 

"Pada tahun 2003 harga bahan spare part lebih besar daripada harga jualnya. Karena hal tersebut memicu kerugian, maka saya memilih untuk berhenti," ujar pria berkumis tebal pada (15/11). 

Tidak ingin merugi untuk yang kedua kalinya, Salim memanfaatkan bahan-bahan sisa usahanya sebelumnya. Besi-besi tersebut dimanfaatkannya sebagai bahan utama pembuatan kompor minyak tanah. Namun hal tersebut hanya berlangsung selama 3 tahun.

Pada tahun 2006 masyarakat tidak lagi menggunakan kompor minyak tanah setelah Jusuf  Kalla menyatakan elpiji sebagai pengganti minyak tanah. Sebagai seorang pengusaha, Salim menghentikan pembuatan kompor minyak tanah. Selanjutnya beralih untuk melakukan pembuatan kompor elpiji. Sukses dengan produk kompor elpijinya, Salim terus membuat produk-produk baru dari besi seperti meja setrika, rak piring, dan rak-rak yang terbuat besi.

No comments:

Post a Comment