Cinta Buta Membawa Lala ke Dalam Duka - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 12 December 2021

Cinta Buta Membawa Lala ke Dalam Duka

Penulis : Ervina Putri D. Magfiroh

Editor : Rafika

Teater: Salah satu adegan pertunjukan Teater Sua "Kenang" yang dilaksanakan di UNISDA Lamongan pada (10/12).

Jumat (10/12) ditemani dengan suasana sejuk pasca hujan, teater Sua berhasil mementaskan pertunjukan teater yang berjudul "Kenang". Pementasan ini diselenggarakan Universitas Islam Darul `Ulum (UNISDA) Lamongan dalam rangka Temu Karya Teater Jawa Timur XXII. 


Panggung yang gelap dan suara musik yang mengalun lembut menjadi penanda babak awal pementasan teater dimulai. Lampu menyorot tajam, menampilkan sosok gadis cantik yang tengah menggores tinta di atas kertas. Dia Lala Sulela, kata demi kata yang ia bubuhkan menggambarkan bagaimana kisah cintanya bersama pria yang dicintainya, Sukri. 


Lampu kembali menyorot, menampilkan siluet sepasang suami istri yang terlibat dalam perdebatan. Mereka adalah Ibu dan Bapak Lala. Ibu terus berusaha meyakinkan Bapak agar merestui cinta putrinya bersama si Sukri, namun sayang bapak belum memberikan restunya karena pria yang dicintai Lala hanyalah seorang yang miskin dengan penghasilan pas-pasan. 


"Pokoknya saya tidak merestui, meskipun dia merayu saya tidak merestui," ucap Bapak dengan sangat tegas. 


Adegan beralih keesokan harinya, panggung mengambarkan suasana taman disore hari. Seorang pria datang dengan raut wajah sendu, Sukri namanya. Ia duduk sembari berharap senja akan memunculkan semburat kebahagiaan. 


Tak lama kemudian Lala datang menghampiri Sukri, hal itu membuatnya terkejut pasalnya hari itu bukanlah hari dimana seharusnya mereka berjumpa. Lala datang untuk sekdar memastikan kabar Sukri, karena dia tidak tak lagi datang ke taman setiap Kamis sore setelah mendengar ucapan Bapak Lala. Sukri mulai muak dengan hubungan yang tak kunjung mendapatkan kejelasan. 


Berbeda dengan Sukri, Lala sangat gigih untuk mempertahankan cerita kisah cinta mereka walau terhalang restu orangtua. Lala terus meyakinkan Sukri jika kisah cinta mereka akan berakhir indah. Tapi tidak dengan sukri yang memilih untuk pasrah dan menyerah dengan keadaan. 


"Aku, Hanya dermaga, tempat kau bersandar kala kau lelah mengarungi kehidupan. Tapi itu dulu, tinggal kenangan antara Sukri dan Lala," ucap Sukri muak. 


Adegan berganti latar tempat di kediaman Lala, Ibu masih berusaha untuk meluluhkan hati Bapak. Bapak yang sudah lelah akhirnya pasrah dan dengan sangat terpaksa harus merestui hubungan keduanya. 


Mendengar itu, Lala segera mengambil kertas dan menulis surat untuk Sukri. Suara musik mengiringi, Lala amat sangat bahagia karena kegigihannya mempertahankan cinta akhirnya membuahkan hasil dan mereka akan bersama selamanya. 


Adegan berganti, hari yang dinantikan akhirnya tiba. Di taman tepat mereka biasa bertemu, Sukri datang terlebih dahulu menanti datangnya sang pujaan hati. Lala datang mengendap-endap kemudian menutup mata Sukri untuk mengejutkannya, baginya bisa bersama dengan Sukri adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. 


Namun itu tidak bertahan lama, kabagiaan hancur seketika setelah Sukri memberikan sebuah undangan pernikahannya bersama wanita lain kepada Lala. Lala sangat kecewa, harapannya tentang masa depan hubungan mereka lenyap begitu saja. 


"Saat menulis surat itu, aku berharap, surat itu akan membawa kita pada kebahagiaan yang tiada tara. Namun sore ini hilang begitu saja, mungkin hanya aku yang berharap cinta kita seperti sedia kala," ujar Lala kecewa. 


Latar tempat beralih kekediaman Lala, terlihat Bapak yang tengah berjalan sembari membawa kopi. Dengan santai bapak menikmati kopi buatannya sendiri. Lala datang kerumah dengan wajah murung, Bapak pun mulai bertanya tentang Sukri. Emosi Bapak memuncak setelah mendengar kabar Sukri akan dijodohkan dengan wanita lain. 


"Dasar laki-laki kurang ajar! Gak punya sopan santun! Pecundang! Kau juga terlalu bodoh, buta cinta, malah sekarang makan hati sendiri! Biar bapak labrak laki-laki itu!" ucap Bapak sembari pergi terburu-buru mengambil celurit. 


Suara gaduh Lala dan Bapak membuat ibu datang dengan tergopoh-gopoh. Keterkejutannya semakin menjadi setelah melihat Bapak membawa sebilah celurit ditangan kanannya. 


"Istighfar pak, nyebut, astagfirullah. Sabar pak," ujar Ibu menenangkan. 


Semuanya semakin terasa sulit bagi Lala, terutama ketika ia mendengar Bapak akan menjodohkannya dengan pria lain. Ia hanya bisa pasrah, kini kisah Lala dan Sukri hanyalah sebuhan kenangan yang sangat menyakitkan untuk dikenang.


No comments:

Post a Comment