Derana - Araaita.net

Breaking News

Wednesday, 29 December 2021

Derana

Penulis : Radha Putri Awaliyah

Malam hari di akhir pekan bulan November. Pria bernama Sastra Mahardika itu menelusuri jalanan kota Jogja sendirian. Hatinya sedang tidak karuan, pikirannya carut marut, karena seharusnya ia di sini bersama Arunika, gadis bermata teduh yang selalu ia rindu. “Kalau dulu aku lebih cepat sedikit, sedikit saja, Run, tentu kita masih bisa menikmati kota ini dengan begitu riang,” bisik Sastra pada dirinya sendiri. Benar, gadis ayu bernama Arunika itu kini sudah tidak lagi ada di dimensi kita. Ia telah lebih cepat menghadap Tuhan, karena kecelakaan maut beberapa pekan lalu yang membuat Sastra begitu terpuruk. Pasalnya jika Sastra tidak terjebak hujan juga macet, pasti Arunika tidak akan pulang sendiri serta tragedi itu bisa dihindari, namun sayang, takdir bersinggungan dengan apa yang diharapkan Sastra. Arunika pergi dan takkan pernah kembali. "Jogja kosong tanpa adanya kamu, Run," bisik Sastra sekali lagi. Kini ia telah sampai di Bukit Bintang, destinasi pertama yang menjadi wishlist Sastra dan Arunika, tapi kini hanya Sastra yang bisa berada di sini.


"Ini Bukit Bintang yang kamu pengen kunjungin itu, kan. Indah, Run. pantesan ngebet banget ke sini hehe, semoga kamu bisa lihat dari atas sana, yaa, jangan lupa lihat aku juga," ucap Sastra mencoba tegar. Ia tak kuasa menahan tangis kala mengingat betapa antusias Arunika saat ia sepakat untuk sedikit berlibur dan melepas penat ke kota Jogja, kota yang katanya terbuat dari kerinduan.


Dalam sepi yang paling khidmat


Sosokmu masih selalu hinggap


Membersamai aku, meski dalam bentala yang tidak bisa dilihat.


Sastra, Bukit Bintang, 27 November 2021,-


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Sastra beranjak dari tempat duduk dan berniat untuk bertandang ke rumah kawan lamanya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, akhirnya nyampe juga kau," ujar pria bernama Aksa yang sudah menanti kedatangannya. Aksa adalah kawan SMA Sastra dan Arunika, ia juga tahu betul alasan Sastra sekarang berada di kota ini.


"Nih, wedang jahe, biar ngga nesu aja wajahmu, nang diminum mumpung masih anget,"


"Hahaha, emang paling tau kau ini, terima kasih,"


Bersua dengan Aksa juga menjadi agenda Sastra dan Arunika (dulu), namun lagi-lagi hanya Sastra yang bisa menemui kawan lamanya itu. Ah, Arunika, andai dia masih di sini, pasti pembahasan kali ini jauh lebih menarik.


"Sas, hidup harus tetap berjalan, ada banyak hal yang perlu kita lakuin, aku juga kehilangan sosok Arunika, sahabat yang selalu menginspirasi ku, sahabat yang bikin aku tau kalo dunia ngga hanya hitam serta putih, aku juga sedih, marah, dan kecewa, tapi tolong jangan jadiin kebiasaan dan kita terus-terusan seperti itu, jangan karena Arunika pergi ngebuat kita jadi stuck dan ngga bisa melangkah lebih jauh. Arunika juga ngga bakal mau ngeliat kita seperti ini, ayolah tunjukin ke Arunika kalo kita laki-laki hebat dan layak dibanggakan, karena sejatinya hidup ini bukan hanya untuk penyesalan dan mengenang, tapi juga masa depan, kau pasti lebih paham daripada aku, Sas, ikhlasin biar Arunika bisa tenang. Jujur, aku sangat merindukan Arunika, namun aku juga ngga bisa bikin dia ada di sini lagi, ini udah jadi kehendak Tuhan, di mana kita sebagai manusia ngga bisa ngelak ataupun ngehindar. So, come on, bro ini bukan kesalahanmu, tapi murni karena kecelakaan, tanamkan itu," pungkas Aksa di akhir obrolan yang hanya dibalas tarikan nafas oleh Sastra. Sedetik kemudian ia sudah pergi entah ke mana, meninggalkan Sastra yang masih menyelami kenangan perihal Arunika, kenangan yang tidak bisa ia kenang sendirian.


Run, ingatan perihal kamu masih tumbuh subur dan terus memadati ruang kepalaku


Tenang di sana, yaa, semoga kabarmu senantiasa membahagiakan


Doa baikkku mengiringi kepergianmu, selalu.


Sastra, pelataran rumah Aksa,-


Malam semakin larut, namun Sastra tak kunjung mengantuk, Arunika masih memenuhi nalar dan nuraninya, menghabisi hingga tak ada celah untuk Sastra berkelakar. Iya, Arunika masih mendominasi hidupnya. Bagaimana tidak, hampir 22 tahun ini ia dan Arunika selalu bersama sebagai saudara kembar yang begitu harmonis. Lantas, dengan sekejap ia harus kehilangan orang yang biasanya selalu ada di samping, selalu membersamai, selalu menguatkan, dan banyak lagi selalu-selalu lain yang rasanya sangat pedih bila dipikirkan. Karena sungguh, kehilangan tidak akan pernah membuat baik-baik saja, pasti ada luka tertinggal dan itu memiliki dampak trauma yang besar, sehingga butuh waktu untuk sembuh dari rasa itu, rasa takut untuk ditinggalkan (lagi). Perkataan Aksa benar, ia tidak boleh mengecewakan Arunika dengan terus meratapi kepergiannya dan tidak melakukan apa-apa. Sastra harus belajar menyeimbangkan diri, membiasakan hidup tanpa hadirnya Arunika. Sebab ini adalah penerimaan yang harus ia pelajari sendiri.


Pagi ini Sastra bersiap untuk pulang, hari-harinya di Jogja telah usai.


“Aku pamit, yaa. Terima kasih sudah diizinkan bersinggah,”

 

“Sama-sama, Sas. Kapan pun kau ke Jogja, jangan lupa buat main ke rumah, aku dengan senang hati menyambut, gausah sedih-sedih lagi. Arunika pasti bahagia punya saudara kembar yang selalu peduli dengan mimpi-mimpinya, minggu depan aku akan bertamu ke Surabaya dan menemui Arunika,”


“Aku tunggu, sekali lagi terima kasih atas segala bijakmu, sampai jumpa,”


Perjalanan pulang kali ini dihabiskan Sastra dengan diam. Sesampainya di Surabaya ia langsung berkunjung ke pusara Arunika. “Assalamualaikum, Run. Aku uda pulang dari Jogja. Di sana indah dan tenteram. Oh, iya, Aksa makin ganteng lo hehehe, dia sekarang jauh lebih dewasa daripada aku, kamu pasti bangga, pekan depan dia mau ke Surabaya, seru banget kan, terlebih kalau kamu masih di dimensi ini. Tenang dia pasti jenguk kamu kok, gausah cemberut gitu hehe. Istirahat dalam damai, yaa. Perihal kamu, apapun itu, pasti selalu abadi dalam ingatanku,” ujar Sastra sembari menabur bunga. Hatinya masih teramat pedih, tapi ia harus tetap tegar. Ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan dan Sastra patut untuk mengikhlaskan sepenuhnya. Kerinduan terhadap Arunika akan ia lantunkan dalam rimbunnya doa-doa. Kenangan tentangnya akan selalu ia bawa dalam hangat pelukan. “Merelakan kini menjadi hal yang paling aku usahakan, Run, meskipun sulit, tapi selalu aku upayakan. Jangan khawatir kesepian, aku pasti sering ke sini,” sambung Sastra dengan terisak, lantas mengusap nisan bertuliskan nama saudara kembarnya “Selamat tinggal, Arunika. Aku pamit pulang. Terima kasih sudah mendewasakan, maaf masih belum membahagiakan,”.


Sore ini aku menyempatkan ke pusara mu


Dan seperti biasa kamu tidur dengan pulas, sampai tidak menyadari keberadaanku


Kiranya kini derana harus selalu aku terapkan


Sebab kehilangan mu adalah kisah yang tidak pernah aku harapkan.


Sastra, dalam rindu yang teramat,-

No comments:

Post a Comment