LINTAS BUDAYA: TRADISI SELAPANAN SUKU JAWA DAN MADURA - Araaita.net

Breaking News

Friday, 31 December 2021

LINTAS BUDAYA: TRADISI SELAPANAN SUKU JAWA DAN MADURA

 


Indonesia terkenal akan suku, budaya, bahasa dan agamanya. Diantaranya yaitu suku Jawa dan Madura. Tradisi di suku Jawa dan Madura juga banyak sekali ragamnya, seperti selametan, tingkeban, selapanan dan lain sebagainya. Setiap kali tradisi yang dilakukan sistematika pelaksanaannya juga berbeda-beda. Seperti tradisi selapanan antara suku Jawa dan Madura ini, perbedaan itu tentunya mempunyai maksud dan arti tersendiri bagi suku tersebut.


Selapanan menurut Bahasa Jawa mempunyai arti yaitu 35 hari. Tradisi ini dikenal sebagai tradisi yang dilakukan oleh suku Jawa yang beragama Islam. Namun, ada juga suku lain yang melestarikan tradisi ini seperti suku Madura. Tradisi selapanan dilakukan untuk memperingati kelahiran seorang anak yang usianya mencapai genap 35 hari. Tradisi selapanan digelar sebagai peringatan bahwa anak tersebut bertambah umur. Dan dengan bertambahnya umur tersebut seorang anak yang lahir telah mengalami perubahan. Mulai dari perubahan fisik, mental dan juga batin. Anak yang mendekati hari kelahirannya mengalami perubahan fisik seperti meningkatnya suhu badan, sering menangis dan gelisah. Tradisi tersebut digelar dengan cara bancaan, seperti mengundang para tetangga datang ke rumah untuk mengikuti pengajian atau hanya sekedar mengantar berkat dari rumah ke rumah. Dengan menu makanan khas yaitu krawu yang biasanya terdiri dari sayur dedaunan seperti daun singkong, daun papaya atau daun kangkung dan kemudian dicampur dengan kelapa yang dibumbui.


Menurut Mulder (1983:4) bahwa bangsa Indonesia khususnya suku bangsa Jawa mempunyai sifat seremonial, artinya orang Jawa menyukai meresmikan suatu peristiwa melalui upacara. Hampir pada setiap upacara yang dianggap penting yang menyangkut kehidupan seseorang selalu diikuti upacara. Salah satunya peristiwa terpenting dalam hidup seseorang yaitu ritual yang ditujukan untuk Selapanan (kelahiran anak). Pada upacara Jawa Kelahiran seorang anak dapat dipertimbangkan dalam tiga tahap. Artinya, ketika anak baru pertama lahir Syukuran atas kelahiran bayi, atau yang biasa disebut Brokohan. Kedua, pada hari kelima setelah bayi lahir, ini biasanya Sepasaran, sejenis ritual yang dilakukan untuk mengekspresikan selera Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan membagikan nasi bungkus kepada anak-anak kecil. Ketiga, Syukuran saat bayi berusia 35 hari atau biasanya disebut Selapanan. Upacara Selapanan ini digelar dengan berbagai cara salah satunya yaitu mengundang tetangga dan kerabat. Pada acara selapanan ini diisi dengan pembacaan aya-ayat suci Al-Qur'an dari yang dikenal sebagai Surat 7 (yaitu, Surat Al Mulk, Ar Rohmah, Al Fatah, Kahfi, Surat Maryam, Surat Yusuf, Surat Waqiah).


Pada umunya memang tradisi selapanan digelar pada hari ke 35, namun juga ada yang berbeda pendapat dalam waktu pelaksanaannya, seperti suku Madura. Karena selapanan merupakan tradisi dari suku Jawa sehingga perhitungannya juga menggunakan kalender Jawa, begitu pula dengan Suku Madura. Mereka juga memakai perhitungan kalender Jawa dalam menentukannya namun juga terpaku pada gender atau jenis kelamin anak tersebut yang telah lahir. Sedangkan untuk Suku Jawa mereka hanya berpatokan pada kalender Jawa saja, tidak seperti Suku Madura. 


Berdasarkan penjelasan salah satu masyarakat yang berasal dari suku Madura tradisi selapanan digelar sesuai dengan gender anak tersebut karena mempunyai maksud dan tujuan tersendiri. Jadi, semisal anak yang lahir adalah anak perempuan, maka acara tersebut digelar sebelum hari ke 35 nya. Namun ketika yang lahir adalah anak laki-laki maka acara selapanan dilaksanakan melebihi 35 hari tersebut, seperti pada hari ke 40 nya atau bisa juga lebih dari itu. Maksud diadakannya tradisi tersebut yaitu, sebagian suku Madura mempunyai keyakinan dan juga kepercayaan bahwa dengan dilaksanakan tradisi seperti itu agar kalau anak perempuan cepat menikah dan sedangkan anak laki-laki agar tidak cepat menikah. Karena di suku Madura mempunya tradisi menikah dini atau menikah diusia muda bagi anak-anak perempuannya. Dan tidak berlaku bagi anak laki-lakinya. Sehingga dari situ masyarakat Madura beranggapan dengan dilaksanakan tradisi tersebut juga akan mempengaruhi bagaimana nasib kedepannya bagi anak-anak mereka.


Meski terdapat sedikit perbedaan yang terletak diantara peringatan tradisi tersebut. Akan tetapi tujuan dari pelaksanaan tradisi selapanan pada suku Jawa dan Madura sama saja yaitu sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan kedua orang tuanya atas kelahiran anak tersebut. Dengan tujuan agar anaknya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, sholih-sholihah dan juga berbakti kepada orang tuanya. Meskipun kita hidup di Indonesia dengan berbagai keragamaan dan perbedaan, akan tetapi tidak membuat kita untuk tidak bisa mengenal dan menghargai budaya satu sama lainnya. Oleh karena itu kita dituntut untuk bisa hidup berdampingan dengan tenggang rasa antar satu dengan yang lainnya. Karena berbeda membuat hidup kita menjadi lebih indah. 


(Penulis: Choerotuzzakia, mahasiswa semester 5 prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UINSA)

No comments:

Post a Comment