Mengenal Mekanisme Katarsis Dari Kasus Novia Widyasari - Araaita.net

Breaking News

Monday, 13 December 2021

Mengenal Mekanisme Katarsis Dari Kasus Novia Widyasari

Penulis : Syifa’ Yahyania Awim Tasya

Editor   : Rima

Sumber: google


Araaita.net “Kasus kekerasan seksual kerap terjadi di masyarakat Indonesia. Namun, seringkali dikaburkan dengan dalih perasaan saling mencinta. Oleh karena itu, hal ini juga menjadi pemicu korban mengalami penderitaan kekerasan mental.“


Kamis (2/12) lalu, rakyat Indonesia dihebohkan dengan kasus bunuh diri salah satu mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Brawijaya Malang, Novia Widyasari Rahayu, yang ditemukan tewas di dekat makam ayahnya di Dusun Sugian, Desa Japan, Kecamatan Suko, Mojokerto, Jawa Timur.


Kasus ini menimbulkan respon yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Terbukti dari beberapa tagar bermunculan berkenaan dengan kasus ini seperti #PERCUMALAPORPOLISI dan #SAVENOVIAWIDYASARI yang trending di twitter selama beberapa hari. Naiknya tagar tersebut, merupakan bentuk simpati masyarakat terhadap kasus yang menimpa Novia.


Novia mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun potasium sianida yang dicampurkan ke dalam minumannya. Dilansir dari liputan6.com, menurut keterangan polisi, motif bunuh diri yang dilakukan oleh Novia ini diduga karena depresi. Penyebab depresi yang dialami oleh Novia ini berhubungan dengan kekasihnya, Bripda Randy. Sepasang kekasih ini telah menjalin hubungan sejak tahun 2019. Selama menjalin hubungan dengan Bripda Randy, Novia sempat hamil dua kali. Namun, pada saat itu Bripda Randy meminta untuk menggugurkan kandungannya pada bulan Maret 2020 dan Agustus 2021. Akibat perbuatannya itu, kini Bripda Randy telah ditetapkan sebagai tersangka.


Sebelum bunuh diri, Novia sempat meninggalkan jejak curhatan di platform Quora dengan menggunakan nama samaran pada tanggal 23-28 November 2021. Di dalam curhatannya, ia mengungkapkan kesedihannya karena ditinggal sosok ayah yang dicintainya dan sanak keluarganya yang tidak mendukungnya disaat terpuruk karena masalah kekerasan seksual.


Mierrina, Psikolog Rumah Sakit Siloam Surabaya, berpendapat bahwa Novia telah mencoba melakukan Mekanisme Katarsis melalui curhatannya. Dikutip dari alodokter.com, katarsis merupakan statement pelepasan emosi atau keluh kesah yang tersimpan di dalam batin. Dalam ilmu psikologi, katarsis juga dimaknai sebagai cara untuk melampiaskan emosi secara positif agar seseorang merasa lebih lega dan bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan perasaan yang lebih baik. Jadi, katarsis ini menjadi salah satu statement yang dapat mengendalikan stress dan frustasi ke arah emosi positif.


“Dibalut dengan rasa ketakutan dia tuangkan (cerita) di sosial media karena memang sepertinya tidak berani dan tidak percaya untuk mengungkapkan itu kepada orang lain,“ ujarnya.


Kendati demikian, Mierrina menambahkan, media sosial hanya bersifat sementara, hanya sebagai tempat untuk melepas emosi saja dan tidak dapat memberikan dampak yang signifikan bagi masalah yang dialami oleh Novia.


"Perlu adanya penanganan lebih lanjut untuk menemukan solusi yang tepat bagi orang yang sudah dibalut dengan emosi negatif seperti ini," tambahnya.


Selain itu, wanita yang kerap disapa Mier ini juga mengatakan, kasus Novia ini merupakan bentuk emosi positif yang berlebihan. Hal tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendalian diri dari Novia yang tak terkontrol dalam hal menyatukan cinta dengan nafsu. Sehingga terjadilah tindakan yang tidak sesuai dengan etika dan merugikan diri sendiri. Mierrina juga menilai bahwa itu juga bisa disebabkan oleh regulasi diri atau self regulation yang tidak bagus.


“Jadi itulah tindakan kemanusiawian seseorang yang tidak terkontrol hanya mengendalikan nafsu. Akhirnya kan dia hanya bisa mengendalikan nafsu saja," ungkapnya.


Mierrina yang juga Dosen Bimbingan Konseling Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengungkapkan, pada fase tertentu Novia sudah tak dapat lagi berpikir secara jernih akibat dari masalah yang terjadi padanya. Seakan-akan mendapat tekanan bertubi-tubi dari dalam maupun luar lingkungannya.


"Dengan dibalut rasa takut yang dialaminya, membuat Novia tidak percaya lagi dengan sekitar hingga ia tak berani menyampaikan keluh kesahnya," ucapnya.


Mierrina berpendapat, kasus bunuh diri merupakan suatu tindakan yang sangat salah dan apa yang terjadi pada Novia ini merupakan bentuk dimana ia sudah tidak dapat mengontrol emosi negatifnya dan tidak menemukan tempat untuk bersandar. Maka, ia memilih untuk mengakhiri hidup sebagai penyelesaian dari beban masalahnya.


"Berawal dari formulasi pikirannya sendiri yang dibingkai dengan keputusasaan membuatnya semakin terpuruk dan tidak menemukan jalan keluar," ujarnya.


Dalam akhir pernyataannya, Mier menambahkan pesan bahwa ketika menemukan teman ataupun keluarga yang menunjukkan gejala atau sedang menderita depresi, alangkah baiknya kita menjadi pendengar yang baik dan menjadi support system mereka. Tidak perlu memaksa mereka untuk menceritakan perasaannya, cukup berikan rasa nyaman dan kepedulian. Serta yakinkan mereka bahwa kita selalu ada saat mereka membutuhkan tempat untuk bersandar dan bercerita tentang keluh kesahnya. (Syf)

No comments:

Post a Comment