MENGIKIS PATRIARKI, MENUJU IBU BERDAYA ERA KINI - Araaita.net

Breaking News

Sunday, 26 December 2021

MENGIKIS PATRIARKI, MENUJU IBU BERDAYA ERA KINI

Penulis : Arika Anggraeni 

Editor : Asri Fatkhiya Prasasti 

Sumber : Google

MOJOKERTO – Budaya Indonesia yang lebih mengunggulkan pria di atas wanita tentu sudah mengakar dan tertanam kuat dalam perspektif masyarakat. Pria sebagai tulang punggung tentu lebih kuat dalam menopang tubuh jika dibanding wanita yang diibaratkan tulang rusuk. Padahal jika kita sadari tulang rusuk memiliki peran penting dalam melindungi organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru yang sangat penting dalam kehidupan. Seharusnya filosofi tersebut dimengerti bahwa pria dan wanita memiliki peran yang sama-sama penting. Budaya patriarkis termasuk pemikiran kolot yang cukup menjadi toxic dalam kesetaraan peran wanita dengan pria. Kekuasaan yang tidak merata dan didominasi lelaki mengerdilkan potensi yang dimiliki wanita untuk mengerjakan tugas-tugas yang selama ini dikerjakan oleh pria. Dalam buku The Origin of the Family, Private Property, and the State yang ditulis Frederic Angels di abad 18 ini menyebut patriarkis sebagai sejarah dunia yang melukiskan kekalahan wanita terhadap pria yang mendistribusikan kekuasaan di tangan pria yang tentu merugikan wanita.


Naasnya perspektif kolot tersebut terjadi di Indonesia, bahkan melekat kuat dan menjadi stigma atau stereotipe yang menomorduakan wanita. Hal ini dibuktikan dengan istilah 3M bagi perempuan Jawa, yaitu Masak, Macak, dan Manak yang menyimpulkan seolah-olah wanita tidak jauh-jauh dari urusan sumur, dapur, dan kasur. Masyarakat menelan hal itu secara mentah-mentah dan membuat kelaziman bahwa memang peran wanita hanya sebatas di rumah tangga. Padahal jika dimaknai lebih lanjut filosofi wanita Jawa 3M, memiliki arti lebih dalam yakni Masak, bukan sebagai penyedia makanan saja, melainkan ibu berperan sangat penting dalam menentukan nutrisi yang dikonsumsi oleh anggota keluarganya; Macak, selain bersolek mempercantik diri juga menghias rumah agar keindahan menyertai setiap sudut ruang di dalamnya. “M” yang selanjutnya adalah Manak, bukan semata-mata melahirkan anak, tetapi juga mendidik dan membentuk karakter anak yang berbudi luhur guna mempersiapkan manusia unggul selanjutnya. Dalam sebuah video, Najwa Shihab menyebut wanita hanya memiliki 3 kodrat yaitu mens, hamil, dan menyusui di luar itu perempuan tidak memiliki gap antara laki-laki. Apa yang disampaikan Mbak Nana memang benar, dan mendapat banyak dukungan dari kaum hawa. Apa yang digaungkan aktivis-aktivis perempuan itu, juga tidak terlepas dari jasa RA. Kartini sebagai pionir gerakan emansipasi wanita. 


Momentum hari ibu sebagai buah dari Kongres Perempuan Indonesia di tahun 1928 membawa angin segar akan kesetaraan wanita. Ibu bukan semata-mata mengurus rumah tangga, melainkan di era modern ini seorang ibu dapat melakukan apa pun tanpa meninggalkan tugas utamanya dalam keluarga. Seorang ibu masih dapat produktif dalam berkarier, dan mengejar cita-citanya. Ibu Sri Mulyani salah satu potret seorang ibu dengan karier yang cemerlang, sebagai seorang MenKeu tugasnya sangat rumit bagaimana ia mengelola keuangan dan kekayaan negara agar dapat mencukupi kebutuhan di setiap elemen pemerintahan. Miris jika masih banyak kasus KDRT yang membuat wanita sebagai korbannya, mereka layak untuk berdaya dan bahagia dalam keluarga tanpa ada bayang-bayang rasa takut dianiaya. Bahkan tingginya derajat seorang ibu dalam Islam disebutkan Nabi Muhammad saw. ketika seorang sahabat bertanya kepada nabi, kepada siapakah ia harus mengabdi? Kemudian Nabi Muhammad saw. menjawab Ibumu, Ibumu, Ibumu, kemudian baru Ayahmu.


Beruntung saat ini banyak role models yang menjadi panutan seorang ibu untuk tetap berkarya sesuai minat bakatnya. Kita sering melihat di televisi dan sosial media tentang kisah-kisah sukses seorang ibu yang menjadi tokoh publik yang menginspirasi pengikutnya, menjadi entrepeneur yang aktif membentuk home industry, bahkan menjadi seorang presiden yang memimpin negeri. Hadirnya tokoh-tokoh wanita seperti ini diharapkan dapat memotivasi perempuan untuk jangan takut dengan mimpi-mimpinya, meskipun sudah memiliki anak dan berkeluarga wanita harus tetap optimis dalam mewujudkannya. Ibu sebagai manusia yang sering banyak berkorban selain melahirkan dan menyusui anaknya, pengorbanan ibu selanjutnya adalah kerelaan waktu, untuk membina dan mendidik anaknya seumur hidupnya. Mempersiapkan calon-calon ibu yang berkualitas dan calon lelaki yang dapat mencintai dan menghargai wanita, baik ibu maupun istrinya. Serta menjadikan siklus itu terus berputar dan berkelanjutan, seperti menggulirkan bola salju selama-lamanya. Maka dari itu seorang Ibu harus tetap bersemangat menjalan perannya dalam keluarga yang dicintainya juga dengan dunia yang menjadi cita-citanya. Semoga peringatan hari Ibu di setiap tahunnya membawa dampak harapan-harapan untuk Ibu dan seluruh perempuan di Indonesia. Selamat Hari Ibu. 


No comments:

Post a Comment