PENERAPAN DAKWAH ISLAM WASATHIYAH DI KALANGAN MAHASISWA - Araaita.net

Breaking News

Thursday, 30 December 2021

PENERAPAN DAKWAH ISLAM WASATHIYAH DI KALANGAN MAHASISWA


Islam wasathiyah menggambarkan  suatu paham dari umat yang memiliki cara  pandang sentral, objektif, serta hidup dengan selaras di tengah masyarakat yang majemuk serta dinamis. Mengajak setiap masyarakat untuk memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat lain dengan ukhuwah yang terbangun secara organik adalah tujuan utama dari Islam Wasathiyah. Islam wasathiyah memiliki peran objektif sebagai sarana dijalankannya fungsi Islam dari dua sisi secara harmonis. Kata “moderat” tidak pernah lepas dari dari Islam Wasathiyah karena moderat menyajikan nilai-nilai humanis dan dialogis, lebih mengutamakan kekuatan persaudaraan, keadilan atas hak, selalu menjunjung toleransi atas umat beragama, dan mampu menghindarkan dari perilaku yang menuju jalan ekstrim.

Ciri-ciri pemahaman dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim moderat yaitu: Tawassuth (mengambil jalan tengah), Tawazun (berkeseimbangan), I‘tidal (lurus dan tegas), Tasamuh (toleransi), Musawah (egaliter), Shura(musyawarah), Islah (reformasi), Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas), Tatawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif), dan Tahaddur (berkeadaban).

Dalam mengatasi deradikalisme agama di kampus, Islam Wasathiyah berperan sebagai letur utama untuk menciptakan harmonisasi kehidupan yang beragama. Islam Wasathiyah tidak hanya berpusat dalam membuat suasana moderasi, melainkan juga mengarusutamakan lektur tersebut ke seantero penjuru dunia. Cara penerapan yang dapat dipakai oleh perguruan tinggi sebagai usaha pengarusutamaan Islam Wasathiyah adalah sebagai berikut:

1.     Membangun kehidupan beragama di kampus yang progresif, komprehensif, dan konservatif melalui penyediaan wadah kemahasiswaan;

2.     Mengadakan   pemasyarakatan   dan   penanaman nilai-nilai moderasi   Islam   dalam kehidupan kampus melalui beragam kegiatan di kampus;

3.     Membangun  korespondensi dan  interkoneksi  antar-perguruan  tinggi  sebagai  rekan kerjasama dalam bidang pengembangan kehidupan beragama di kampus.

Dari berbagai upaya di atas, cara penerapan tersebut bisa dijadikan sebagai tindakan untuk mengarusutamakan Islam Wasathiyah di  perguruan  tinggi  dalam  kehidupan  sehari-hari. Hal ini diharapkan mampu menjaga dan memproyeksikan mahasiswa dari tindakan atau paham radikal yang dibawa oleh kaum radikal di kampus.

Selain itu, untuk menelaah dan menganalogikan dua hal secara fasih dan dapat menghasilkan sikap yang seharusnya sesuai situasi dan tidak kontradiktif dengan prinsip-prinsip agama serta adat masyarakat, dibutuhkan Islam Wasathiyah sebagai metode berpikir, berkata, dan bertindak dalam segala hal yang diimbangi dengan sikap tawazun (seimbang). Metode-metode yang dapat diimplementasikan untuk menerapkan islam wasathiyah dikalangan mahasiswa adalah sebagai berikut:

1.     Membangun Perdamaian

Sikap perdamaian diharapkan dapat dibangun sejak dini sebagai tiang utama moderasi beragama. Perdamaian akan melahirkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran, namun sebaliknya kekerasan akan melahirkan kehancuran dan kebinasaan persatuan.

2.     Menghargai Kemajemukan

Kondisi Indonesia yang memiliki beragam suku, bahasa, dan adat sudah pasti menciptakan segala bentuk perbedaan. Moderasi beragama merupakan sebuah framing yang tepat dalam mengatur dan mengelola kehidupan yang majemuk. Cara mencegah sikap eksesif atau ekstrem adalah dengan menghargai kebhinekaan yang ada.

3.     Menghormati Harkat Martabat

Seseorang hendaknya menyadari komitmen dalam dirinya sendiri mengenai dasar hukum Negara Indonesia. Pada sila ke-2 menyatakan bahwa sebagai rakyat Indonesia hukumnya wajib menghormati harkat martabat kemanusiaan antar mahasiswa maupun mahasiswi. Tidak boleh ada segregasi antara perempuan maupun laki-laki dalam segala aspek kehidupan.

4.     Memajukan Kehidupan Warga Kampus

Konsep ini diharapkan dapat diwujudkan oleh masing-masing individu dengan sikap hidup amanah, adil, ihsan, toleran, kasih sayang terhadap umat manusia tanpa diskriminasi, dan menghormati kemajemukan. Sikap Islam wasathiyah dapat terwujud apabila kerukunan antar mahasiswa berlangsung tetap dan selamanya.

Dalam perkembangannya, pada masa kini terdapat setidaknya ada enam teknik yang melekat dengan karakter dakwah Islam wasathiyah di ranah pendidikan apalagi di lingkungan mahasiswa, diantaranya: lingkup lingkungan, lingkup fungsional, lingkup analitik, lingkup manajerial, lingkup intelektual, dan lingkup perilaku.

Umat Islam yang berkualitas diharapkan berperan maksimal untuk membangun muslim yang berkualitas dan berkompeten. Perkembangan Islam yang sekarang ini telah menguasai posisi strategi, baik dari potensi sumber daya manusianya maupun peningkatan ekonomi global. Di era ini, dunia pendidikan Islam Indonesia mendapati provokasi besar untuk berperan optimal meminimalisir senjang keterbelakangan dengan dunia barat, baik dari lajunya pendidikan, industrialisasi, ekonomi, maupun budaya. Dari sinilah diperlukannya Islam Wasathiyah untuk menghadapi tantangan besar di zaman sekarang dengan tujuan menjadikan muslim Indonesia sebagai leading sector dalam menentukan arah perkembangan zaman.

Referensi:

Nur, Afrizal dan Mukhlis, Lubis. 2015. Konsep Wasathiyyah dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif antara Tafsir al-Tahrîr wa al-Tanwîr dan Aisar al-Tafâsîr. Jurnal An-Nur, Vol.4 No.2. UIN Suska Riau.

Munir,dkk. Januari 2020. Literasi Moderasi Beragama di Indonesia. Bengkulu: CV. ZIGIE UTAMA.

Hasan, R., 2018. Kontribusi dan Strategi Metode Dakwah di Era Globalisasi. Jurnal Peurawi: Media Kajian Komunikasi Islam, Vol.1 No.2.


*Penulis: Muhammad Alif Mahdy Mumtaza, biasa dipanggil Alif, Lahir Di Surabaya, Pada 29 Desember 2002. Mahasiswa Semester 1 Prodi Bimbingan Konseling Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

No comments:

Post a Comment