Ibu Kaminah, Penjual Jamu keliling Di Surabaya Sejak 1971 - Araaita.net

Breaking News

Saturday, 8 January 2022

Ibu Kaminah, Penjual Jamu keliling Di Surabaya Sejak 1971


Penulis: Rosa Anjelly

Editor: Rafika 

 

Kaminah, saat meracik jamu sinom, sebelum disajikan ke pembeli.


Surabaya – Kaminah (70), sudah berjualan minuman tradisional selama 50 tahun berkeliling menggunakan sepeda. Namun ia tidak menaikinya melainkan berjalan sambil menuntun. Pada boncengannya digunakan sebagai tempat untuk meletakkan botol-botol jamu.
 

 

Kaminah penjual jamu keliling itu berasal dari Solo, Jawa Tengah Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Kemudian pindah ke Surabaya dan menetap di Kampung Tambak Segaran. Kaminah mempunyai anak tunggal. Ia tinggal sendiri karena anaknya sudah berkeluarga dan suaminya sudah meninggal. 

 

Kaminah menjual beragam jenis jamu tradisional, di antaranya sinom, beras kencur, kunir asem, temulawak, pahitan, dan kunci sirih. Dulu Ia menjual jamu anak sehat untuk anak kecil, tapi sekarang sudah tidak lagi menjualnya. Semua jamu yang dijual memiliki beragam khasiat seperti memperlancar peredaran darah, menyegarkan tubuh, meringankan sakit batuk, dan lain-lain. Ia belajar meramu jamu dari almarhumah Ibunya.

Jamu-jamu tersebut dijual dengan harga Tp.2000 pergelas dan Rp.10.000 perbotol. Tiap harinya Kaminah biasa membawa 14 botol jamu kadang 20 botol. Pelanggan banyak yang beli pakai gelas, itupun biasanya kalau lagi hujan, saat cuaca tidak hujan jamu botolan laku keras.
 

 

Pembuataan jamunya, Kaminah memerlukan waktu sekitar lima jam dimulai pada pukul tujuh pagi sampai dua belas siang. Bahan-bahan yang biasa digunakan pun beragam, ada jenis rempah kencur, beras, kunyit, sirih, kunyit asem.

 

“Bahannya tidak pakai blender sama sekali karena pengaruh dirasa. Prosesnya gampang cuma ditumbuk lalu dipipih setelah itu direbus” Ujarnya. 

 

Kaminah keliling berjualan dimulai pukul tiga sore hingga pukul sembilan malam. Lokasi jualannya mulai dari kawasan Tambak Segaran hingga Dukuh Setro. Jaraknya lumayan jauh tetapi karena sudah memiliki banyak pelanggan termasuk penulis dan karena terbiasa, jarak tersebut menjadi terasa dekat.

 

“Saya juga langganan sama Ibu ini jamunya enak murah lagi. Biasa beli yang botolan seminggu 2 kali” Kata Yani warga di Kawasan Kapas Gading. Selasa, 30/11/2021. 

 

Dalam sehari hasil berjualan tidak menentu kadang 150 ribu, kadang 100 ribu. Kalau lagi ramai pembeli sekitar 200 ribu. Masa pandemi seperti sekarang kadang ramai kadang sepi. Selain membuat dan menjual jamu, ia juga mengonsumsi sendiri jamunya, seperti kencur dan kunci sirih biar awet muda.

 

“Rezeki saya cuma sedikit pas-pas an yang penting badan saya masih sehat. Ada penjual yang pendapatannya 600 ada yang 400. pendapatan saya cuma sedikit paling mentok 150-200 ribu.” 

 

Kaminah lebih memilih berjualan keliling dari pada membuka toko sendiri di rumah, ia lebih senang jalan kaki. Selain itu, ia tak pernah merasa malu dan capek berjualan jamu berkeliling sambil menuntun sepeda di kawasan Tambak Segaran hingga kawasan Bulak. Walaupun harus berjalan sambil menahan berat beban jamu, ia tetap ikhlas menjalaninya.

 

“Saya buka toko ya nggak bisa. Nggak ngerti menulis juga, duit saya ngerti. Yang penting dulu saya bisa menyekolahkan anak, meskipun saya sendiri dulu putus sekolah waktu kelas satu" ceritanya. 

 

“Dulu pernah saya naik sepeda terus jatuh. Makanya setelah itu ga berani lagi saya juga sudah tua, takut mending dituntun” kata Kaminah.

 

Kaminah masih berjualan jamu karena hanya dari situ pendapatan untuk memenuhi kebutuhannya. Selama masih kuat jalan dan hasil kerjanya halal, ia senang berkeliling. Tidak ada rasa susah selama berjualan jamu yang ada hanyalah rasa syukur.

No comments:

Post a Comment